TORTOR SOMBA MASUK SEKOLAH, PAKAI ECENG GONDOK SEBAGAI TAS SEKOLAH
Hari ini Senin, 6/10 seluruh sekolah di Kabupaten Samosir terapkan manortor untuk siswa/murid yang akan masuk ruang kelas. Tortor yang digelar adalah Tortor Somba (tarian penghormatan) diiringi musik gondang somba dari CD/DVD/cassette, yang diperdengarkan dari kantor sekolah. Usai upacara setiap hari Senin, para siswa/akan berbaris di depan ruang kelas masing-masing dengan iringan gondang somba mereka akan menggelar tortor somba dan setelah tiba waktunya (menjelang akhir gondang) para siswa masuk ruangan kelas disambut oleh Guru yang sudah berdiri di pintu ruangan. Sambil manortor/ menari, para siswa menghormat dan memberi salam (“marsomba”) kepada Guru.
Menurut H.Ambarita, Ka.UPTD Kec.Simanindo bahwa Tortor somba yang digelar berdurasi sekitar 5 menit, sengaja dipilih sebagai sebuah implementasi adat budaya Batak Toba, Dalihan Natolu dengan elemen somba marhula-hula, elek marboru, manat mardongan tubu, dalam hal ini siswa/murid berkedudukan sebagai Boru, Guru sebagai Hula-hula, sementara sesama guru adalah mardongan tubu-(kakak adik).
Lebih lanjut Ambarita mengatakan bahwa penggunaan tortor somba di sekolah, adalah untuk mengangkat kembali kearifan lokal sekaligus mengajarkan budaya hormat kepada guru dan orang tua, serta sayang kepada sesame yang memang sudah ada dalam filosofi Dalihan Natolu. Artinya pembinaan karakter budaya, dimulai dari sekolah, sehingga kedepan para anak sekolah akan mencintai budayanya serta menerapkan kehidupan “beradab-beradat” menjadi sebuah identitas karakternya.
Sementara itu, Kadis Pendidikan Kab.Samosir Drs.Marulak Malau MSi, menyampaikan bahwa Tortor Somba ini akan digelar setiap hari Senin di seluruh sekolah baik di tingkat SD, SMP, SMA/SMK, terkait dengan kurikulum 2013 dan visi Kabupaten Samosir sebagai destinasi wisata budaya-sejarah dan lingkungan.
Secara khusus di lingkungan Sekolah, kearifan lokal berbasis budaya Batak akan kita sosialisasikan, kreasikan kepada seluruh siswa sekolah-generasi muda menjadi suatu life skill sekaligus membangun jiwa dan karakter yang berbudaya, lanjut Malau.
Ada kreasi lain yang sekarang sedang dikerjakan oleh siswa yakni membuat tas dengan memanfaatkan eceng gondok yang memang tumbuh subur di Danau Toba. Dalam kegiatan eksskul (ekstra kurikuler) setiap siswa diwajibkan untuk membuat-menganyam eceng gondok menjadi tas/ransel yang kelak akan dipakai setiap hari Jumat mulai bulan Desember yang akan datang. Makna dari kegiatan ini bermuara kepada adanya pemahaman siswa untuk memanfaatkan “sampah lingkungan” menjadi sesuatu yang berguna, sekaligus upaya untuk menjaga dan memelihara lingkungan