Jokowi mendidik Anaknya

Bisa mendidik anak untuk punya prinsip seperti ini amat sangat tidak mudah.

Presiden Jokowi menceritakan mengenai jabatannya sebagai Presiden dan bisnis anak-anaknya dalam buku Menuju Cahaya karya Alberthiene Endah :

Ketiga anak saya juga sosok yang saya kagumi. Kagum karena mereka juga tangguh menjaga karakter dan jati diri masing-masing. Tak terpengaruh oleh jabatan yang saya emban. Sikap ini sudah mereka tunjukkan jauh sebelum saya menjadi presiden. Ketika saya menjadi Wali Kota Solo, anak-anak secara alamiah seperti membangun ‘perbatasan’. Mana wilayah di mana kami bisa berinteraksi pribadi sebagai keluarga dan mana wilayah tugas bapak mereka. Anak-anak tidak pernah menerobos masuk ke dalam jabatan saya untuk kepentingan mereka. Sama sekali tidak.

Gibran Rakabuming Raka, anak sulung saya, sudah belajar berbisnis sejak saya masih bertugas di Solo. Ia merintis bisnis katering dari nol. Bisnis kuliner sangat dicintainya. Sepanjang menjalankan katering tak sekali pun Gibran berharap koneksi atau sodoran order atas nama jabatan saya. Tak sekali pun. Ia bahkan begitu asyik membangun bisnisnya sampai saya sempat tak tahu sudah seberapa besar ia membangun usahanya. Saya mengetahui sepak terjang bisnis Gibran justru dari media sosial. Seperti merebaknya bisnis martabaknya yang bernama Markobar dengan banyak cabang. Saya sering tertawa sendiri melihat bagaimana cara ia berpromosi di media sosial. Biarlah. Ia telah memiliki pilihan kerja yang ia cintai. Saya sama sekali tidak berusaha ikut campur. Ia sudah memenangkan pertarungannya dan bangga akan itu. Gibran dan istrinya, Selvi Ananda, dianugerahi putra yang sangat lucu, Jan Ethes Sri Narendra.

Kahiyang Ayu, anak ke-dua, menjalankan bisnis kedai kopi bersama suaminya, Bobby Nasution. Mereka juga merintis dari bawah. Kahiyang sempat melamar menjadi pegawai negeri sipil tapi gagal. Ya sudahlah. Ia tidak kecewa. Tanpa kehilangan semangat, ia berkecimpung dalam bisnis minuman kopi dan kedai kecil. Apa yang diperbuat Gibran memberinya inspirasi. Kahiyang dan Bobby telah dikarunai seorang putri mungil dan cantik, Sedah Mirah Nasution.

Kaesang Pangarep, si bungsu, juga ikut berjualan makanan. Ia membangun bisnis penganan pisang bernama Sang Pisang. Cabangnya sudah banyak, sampai ke luar pulau Jawa. Selama menjalankan bisnisnya, Kaesang tinggal di Jakarta. Ia kos di kawasan utara Jakarta.

Ketiga anak saya punya banyak waktu untuk bertemu dengan saya. Tapi kami memiliki ikatan rasa yang sangat kuat. Setiap kali bertemu, kami berkumpul dan membicarakan hal-hal yang bisa mengisi jiwa. Mulai dari dagelan ringan sampai diskusi pekerjaan. Saya bangga dan bersyukur anak-anak saya memiliki kebanggaan yang kuat akan kemandirian. Mereka bangga karena mampu membangun bisnis dan mengembangkannya dengan cukup berhasil. Tak ada gelagat mereka minta disokong oleh kemudahan fasilitas karena jabatan saya. Saya yakin, mereka malah akan malu jika melakukan itu.

Jabatan saya adalah dunia kerja saya, bukan wilayah kuasa anak-anak. Menjadi seorang presiden bukan berarti saya mengalirkan power kepada anak-anak saya. Itu hal yang amat sangat saya tentang. Anak-anak harus belajar tentang kehidupan yang berputar bagaikan roda. Sekarang saya menjadi Presiden. Kelak juga akan datang masa pensiun. Kita tidak boleh silau karena jabatan, apalagi terlena dan menganggapnya sebagai ‘sofa empuk’ kehidupan. Tidak boleh sama sekali. Anak-anak harus melihat jabatan saya murni sebagai pekerjaan. Pekerjaan yang menuntut tanggung jawab besar. Alhamdulillah, anak-anak saya tumbuh dengan kenmandirian hidup yang mereka kelola sendiri.

Kelak saya berharap, anak-anak bisa mengambil teladan dari apa yang saya perbuat. Bahwa di dalam hidup, takdir bisa mengarahkan kita untuk memberi manfaat bagi kepentingan orang banyak. Pada saat itulah kualitas karakter dan ketulusan sangat dibutuhkan, termasuk keikhlasan keluarga. Tiada satu pun dari kita yang bisa betul-betul memastikan akan seperti apa kita di hari mendatang. Berpuluh tahun lalu saya juga tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat saya akan menjadi seorang presiden. Tapi realitas itu hadir. Realitas-realitas selanjutnya akan saya pijak di hari mendatang. Apa pun tugas yang kita emban kita harus menunjukkan tiga hal yang berharga: kualitas karakter, ketulusan, dan kesungguhan untuk bekerja baik.

Kini saya tengah melakoni takdir memegang tampuk kepemimpinan tertinggi negeri ini. Keluarga saya ikhlas dan bermental kukuh. Kami tidak mempermasalahkan diri kami pribadi. Saya dan keluarga sudah menghayati tugas ini sebagai tanggung jawab bagi kepentingan rakyat Indonesia. Maka, walau ada hal-hal yang menyakitkan diri pribadi, kami bisa menelannya tanpa emosi.

Pada saat kami bisa berkumpul, itu adalah anugerah yang saya syukuri. Jika mereka berkesempatan menjenguk kami di Bayurini, saya ajak mereka ke Kebun Raya Bogor, berjalan bersama. Sudah pasti akan saya nikmati setiap detik yang ada dengan dua cucu saya yang lucu. Iriana akan memasak dan kami bersantap bersama. Kami tak merasa kehilangan kehidupan seperti dulu karena rasa pengertian yang besar. Jika bisa berkumpul dan makan bersama hanya sebulan sekali, atau dua bulan sekali, ya tidak masalah. Kadang jika saya berkesempatan melakukan perjalanan dinas ke Solo pasti akan saya sempatkan makan di rumah kami di Solo.

Takdir telah membawa kami ke corak hidup seperti hari ini. Seperti juga kekuatan kami di masa lalu, maka hari ini pun kami sama kokohnya. Karena bagi kami sekeluarga, yang terpenting adalah hidup kami bermakna. Tidak sia-sia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *